Sungai Tenang yang terisolasi

Sungai Tenang yang terisolasi
jalan menuju ibukota kecamatan "Road Race"

Jumat, 22 Januari 2010

Cerpen Wiko

Jumat, 22 Januari 2010

sebuah Kisah dari Sungai tenang

ketika pertama aku berjumpa dengannya tidak aku duga sama-sekali ia akan hadir didepanku. serang wanita yang aku kenali suaranya lewat sebuah telepon genggam benar-benar telah membuktikan kata-katanya padaku dan menatap dengan senyum penuh kebahagiaan saat ia menemukan aku diota ini.
aku sama sekali tidak menduga akan begini jadinya, aku tidak menyangka ia akan benar-benar muncul disini. kupikir mana mungkn seoang wanita mau menyusul seorang laki-laki yang hanya dikenalinya lewa telepon. ini benarbenar terjadi dan aku ternganga.
Aku lihat senyumnya masih merekah, tapi terselip wajah khawatir, kemudian ia mengatakan inilah fakta tentang dirinya, dengan begitu pesimis ia bercerita tentang segal kekurangannya. aku tertegun. aku tak mengerti apa yang terjadi, sementara dari pesisir Selatan, Sumatera Barat seorang saudara satu nenek ayahku menawarkan seorang gadis sebagai pendampingku dan dijadwalkan akan datang dua minggu kedepan sebagai awal sosialisasi. maklum orang padang, lebih senang lelaki dari sku mereka pulang dan menikah dikampung halaman ketimbang kepincut gadis perantauan, meskipun anak lelaki itu sudah lahir dan bsar diperantauan, ada rasa rugi bila lelaki muda yang mapan itu menikah dengan suku lain.
kutaap wajah wanita itu, tampak kecemasan semakin menguasainya, ia bertanya apakah aku akan membawanya kerumah orng tuaku. aku bingung, kulihat ia semakin pesimis, "kalau abang tak suka padaku tak apa-apa. aku tahu diri..." ucapanya membuat aku tersentak kaget. "Begini saja, haru sudah senja, nanti tak baik dilihat orang, kita berangkat ke rumahku besok," jawabku tak yakin. kini aku mula semain bingung, seorang anak tetangga ada yang sedan aku pacari, ia juga sering meanyakan kapan akan menikahinya. sementara dari Padang akan datang pula calon pilhan sudara ayahku. aku melangkah hilir mudik seperti seterika, sementara senja ,mulai gelap.
"Kini menginap saja ditempat saudaramu, besok kerumah orang tuaku..." aku berkata tak yakin. kuantar ia kerumah saudaranya, aku pulang kerumah orang tuaku. aku semakin bingung, kuterka-terka perjalanan dari kampung halamannya yang sulit, kabarnya rusak parah dan kedatangannya menginap dulu karena jalan rusak total alias tidak bisa dilewati mobil dibeberapa bagian. kini aku mulai bimbang mengatakan tidak pada tawaan cintanya. aku berfikir-berfikir kemudian kuangkat telepon seluler diatas meja kuhubungu saudara satu nenek ayahku, kukatakan aku tidak siap menikah sekarang dan meminta ia membatalkan kedatangan calon yang ia siapkan. aku kembali binung apalagi kudengar ia sangat kecewa dengan keputusanku. aku hilir mudik lagi malam terasa sangat panjang sekali. aku memang belum mencintai gadis kaki gunung masurai ini tapi aku tak sanggup mengatakan aku tidak menerima cinta yang dia bawa jauh dengan susah payah melewati jalanan rusak parah anatara Sungai Tenang -Hingga lemabah Masurai. walaupun aku belum pernah kesana surat kabar sudah menggambarkan betapa sulit medan jalan kekampung wanita ini.
Malam terasa lama sekali, terbayang wajah Mainaroh gadis yang kupacai sejak enambulan lalu. aku semakin bingung...daam kebingungan akhirnya aku tertidur juga.
Pagi tiba aku telpn gadis itu kuminta datang kerumahku, yah sebenarnya tidak layak aku berbuat begitu, seolah tak punya perhatian sama sekali baginya. seolah hanya ia yang butuh aku tapi waktu itu aku betul-betul bingung...
tak kusangka ia datang kerumahku, berbasa-basi dengan ibuku, dan dengan berani memunculkan pertanaan aneh, "kapan aku akan melamarnya?...
Aku kaget setengah mati aku bingung, bingung bingung dan kini gadis ini mebawaku kepuncak kebingungan. kini aku tahu, kalau Tuhan sudah maah tau rasalah aku. biasanya aku ska mempermainkan wanita lewat hendpone. kini aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali menunjuk tanggal di kalender, selebihnya aku tak ahu apa yang harus kulakuan apalagi didompetku hanya tersisa sepuluh ribu...
Waktu berlalu...kini ku beritahu kepada pembaca semua, .....
wanita itulah yang kini mendampingi hidupku...

Senin, 18 Januari 2010

Monolog

MONOLOG WIKO ANTONI : MENGGAPAI BINTANG

SEORANG GADIS MEMEGANG BUKU TERMENUNG SENDIRIAN. MELANGKAH GELISAH KEMUDIAN DUDUK. LEMAS.

Aku tak boleh menyerah. aku harus menggapai cita-citaku. aku tak mau menjadi orang bodoh, memehami apa yang ada disekelilingku, tak mengetahui hal lain diluar sana. cukuplah kakak kakakku yang kawin muda. aku tidak setuju pendidikan hanya dapat dinikmati orang kaya saja. aku harus bangkit aku harus melanjutkan pendidikan.
Kata ayah aku akan segera dinikahkan dengan pilihannya. mana aku mau, umurku belum genap tujuh belas. masa depanku masih panjang aku tak mau menikah, lalu setahun kemudian sibuk mengurus anak. aku masih begitu muda, mana mungkin aku mampu mengurus rumah tangga dengan baik. aku tidak mau...aku tidak mau.
ah... aku bingung, padahal aku sudah jelaskan kepada orang tuakuku aku ingin melanjutkan sekolah, mereka terus berkeras hendak menikahkanku. aku tidak mau. aku tetap tidak mau, sampai matipun aku tidak mau. lihat kakakku yang nomor dua, baru setahun menikah sudah menjanda, apa menikah itu hanya untuk bercerai. aku kira itu terjadi karena waktu ia menikah dulu ia memang belum siap untuk itu. lihat pula kakakku paling tua, hingga kini harus banting tulang bekerja untuk mencukupi nafkah keluarga, suaminya ternyata punya istri sebelum dia. kini ia kembali ke istri tua sementara dengan kakakku ia sudah punya anak dua yang tak pernah dinafkahi sampai kini. Aku tidak mau seperti mereka. aku mau hidup lebih baik. untuk itu aku harus mendapat pendidikan yang baik pula. aku ingin menjadi wanita yang punya wawasan, punya sikap dan dapat menentukan hidupku sendiri secara bijaksana.
sebenarnya semua perempuan ingin bersuami, ya. setiap yangmulai remaja ingin punya teman hidup. tapi bukan begini caranya, menikah dengan buru-buru tanpa kesiapan jiwa, tanpa kesiapan wawasan keilmuan, aku yakin kalau aku menikah sekarang pasti rumah tanggaku berantakan. aku tak mau itu terjadi, aku mau hidup tentram, teratur dengan bekal ilmu yang cukup.
TERDENGAR SUARA PANGGILAN IBU. GADIS TERSEBUT MENYAHUT.
tidak bu aku tidak mau menemuinya, aku mau melanjutkan sekolah, aku nohon bu, jangan paksa aku menikah sekarang. aku mau melanjutkan sekolah dulu. mengertilah bu, aku tidak mau.PEREMPUAN MENATAP KETAKUTAN. jangan...jangan paksa aku menikah sekarang. aku mau sekolah. aku tidak mau kelak menjadi seorang ibu rumah tangga yang miskin wawasan keilmuan. aku mau hidup lebih baik, jangan paksa aku aku mohon bu...GADIS MELANGKAH MUNDUR. IA KETAKUTAN SEKALI. Jangan ayah jangan paksa aku menemuinya biar dia cari gadis lain saja. aku tidak mau, aku tidak mau. aku mohon mengertilah...MUSIK TERDENGAR MENGIRIS. Siapa saja tolonglah aku. aku ingin lari dari pakasaan ini aku ingin melanjutkan sekolah. aku mau menuntut ilmu yang lebih tinggi. tolonglah aku... dikampung ini orang tidak mengerti arti pendidikan, tolonglah aku, jelaskan kepada mereka bahwa ilmu sangat penting, pendidikan sangat penting...siapa saja... jelaskan pada mereka. lihatlah disekelilingku. mereka semua ingin anak mereka cepat menikah, agar tanggungjawab mereka sebagai orang tua cepat tuntas. tapi kenyataan yang terjadi. ketika perempuan-perempuan banyak yang menjanda, masalah bukannya selesai bahkan beban hidup semakin parah. Tolonglah aku, tolong jelaskan kepada mereka bahwa sekolah bukan buang-buang uang namun upaya mendapatkan harta yang tak ternilai harganya. bagaimana mungkin hidup dapat ditempuh dengan sempurna tanpa ada bekal ilmu dalam diri kita. GADIS MELANGKAH LUNGLAI. MUSIK SEPI. biar aku coba untuk melanjutkan hidupku sendiri, biar aku akan pergi dari kampung ini akan kucoba menuntut ilmu dengan upayaku sendiri. tapi apa mungkin ya...mana mungkin aku membiayai sekolahku sendiri dinegeri orang, sementara orang tuaku tak mau mendukung keinginannku untuk mendapat pendidikan. SEDIH. ah... aku tak berdaya, sepertinya aku harus menerima paksaan ayahku untuk meneriam lamaran pria itu. tapi..aku tidak mau, aku benar-benar tidak mau. tapi aku tak berdaya, bagaimana ini. TERDENGAR SUARA PANGGILAN. GADIS CEMAS. Tidak, aku tidak mau...aku mau sekolah, tidak ibu, tidak ayah...izinkan aku melanjutkan sekolahku... aku tidak mau. GADIS TERSUNGKUR TIDAK BERDAYA.

puisi cinta

Lelaki Malam

aku melangkah dalam kesepian cinta
dari pelukan wanita-wanita
lalu terhempas didekapmu
Istriku adalah perempuan terbaik yang aku tahu
setelah ibu yang tak pamrih padaku

Istriku akan menjadi api dalam dinginku
setelah kedewasaan menjemput
dan ibuku serahkan daku padamu
untukmu istriku terimalah tanggungjawabku
seiring cintamu yang tak lepas padaku

05 01 11

Waktu bernyanyi

selamat tinggal kembara
aku akan lelap dipeluk cinta
ini bukan sebuah penghambaan
tapi hampa harus segera kubuang

0901 11